Semua orang tahu bahwa orang hidup itu pasti punya masa lalu. Baik buruknya sesuatu yang pernah terjadi dalam hidup adalah sudah menjadi bagian dalam perjalanan. Sedikit banyaknya pelajaran yang didapat, akan sangat berharga jika dapat merubah diri. Bahagia atau sedih yang dirasa, akan sangat melapangkan jika disyukuri. Terlepas dengan apa yang akan terjadi, itu urusan nanti. Loh, bagaimana maksudnya?
Pelan namun pasti, setiap yang hidup akan sampai pada fase pendewasaan. Bagaimana tolak ukur seseorang dikatakan dewasa? Ada yang bilang yaitu saat seseorang mulai bisa mengatasi setiap masalah dalam hidupnya sendiri, tanpa harus meminta pendapat orang lain lagi. Ada juga yang bilang kalo dewasa itu ya berarti mereka yang sudah mampu mengambil alih 100% kendali hidupnya. Pernah juga kudengar pendapat yang bilang jika dewasa itu hanya soal umur dan jam terbang. Entahlah yang mana yang benar. Yang jelas, setiap orang memiliki pendapat dan tolak ukurnya sendiri atas pendewasaan dirinya. Yang seringkali dilupakan adalah saat kita menganggap diri kita sudah dewasa, bisa saja orang lain tidak melihat hal yang sama.
Terlepas dari fase pendewasaan, rasanya tidak afdol jika seseorang sampai pada fase ini, namun ia belum merasakan "titik terendah" dalam fase kehidupannya. Memang benar roda itu berputar. Dan memang perlu berputar kan untuk bisa sampai pada tujuan? Semua masalah yang datang dalam hidup, itulah yang membuat kita belajar. Untuk menjadi pintar memang harus belajar, kan? Makanya bisa naik kelas. Makanya bisa dapat peringkat.
Manusia diciptakan memiliki sifat pemimpi, dan ini adalah baik. Seorang astronot tidak akan sampai ke bulan jika ia tidak mulai bermimpi bisa sampai disana. Dari mimpi, kita akan mulai menyusun langkah. Step one, step two, dan seterusnya. Besar kecilnya langkah yang diambil, tidak jadi masalah. Yang bermasalah adalah mereka yang bermimpi namun tidak berani melangkah. Dalam melangkah bukan berarti semuanya akan mulus dan sesuai rencana. Saat seorang balita berjalan untuk pertama kalinya, apakah ia langsung bisa berlari? Jelas tidak, kan. Jatuh dan tersungkur akan jadi hal biasa. Begitu pula seseorang yang mulai mengambil langkah mewujudkan mimpinya. Jatuh dan kecewa akan pasti diterimanya. Semua yang pernah terencana, seringkali berbelok arah dan malah jadi bencana.
Biasanya, saat merencanakan sesuatu, kita akan sering membayangkan hal-hal yang membuat kita senang yang akan terjadi nantinya. Apa itu salah? Sama sekali tidak. Yang salah adalah kita tidak mempersiapkan diri kita untuk menghadapi hal-hal yang tidak kita senangi. Apa dan siapa yang menjamin semua rencana kita akan berjalan mulus? Manusia tidak ada yang memiliki kuasa melebihi kuasa-Nya. Yang seringkali terlupa saat berencana adalah menyerahkan semuanya kembali pada kekuasaan-Nya. Ingat, sebaik-baiknya perencana ialah hanya Allah Swt.
Yang namanya mimpi memang akan berada diatas. Mungkin, inilah yang jadi penyebab saat seseorang belum bisa meraih mimpinya, ia akan jatuh dan kecewa. Inilah yang dinamakan "titik terbawah" dalam hidup. Lantas harus bagaimana?
Sakit adalah hal pertama yang dirasa saat terjatuh. Apakah ada orang yang jatuh tapi malah bahagia? (coba bawa sini, kita gulet aja). Yang perlu dicatat: sakit dan kecewa itu satu paket. Kadangkala sampai membuat menangis, dada terasa sesak, hidung tersumbat, dan perut membuncit (canda sayang). Tapi ya kurang lebihnya begitulah prosesnya. Nah, saat-saat seperti inilah kita butuh yang namanya supporting system. Ada yang langsung update story di ig, atau ngebacot di twitter, atau chat temen terdekat untuk diajak ngumpul demi mendengarkan "long story" nya, atau ngirim broadcast di wa buat ngajak makan-makan di rumahnya (hoho yang terakhir ini untuk kalangan kerajaan kali ya). Apapun itu, pasti akan dilakuin dengan satu tujuan; tenang.
Supporting system itu banyak rupanya. Keseringannya sih ya berupa manusia (yaiyalah masa jin, yang waras-waras aja lah). Maksudnya, ada beberapa orang yang cukup bercerita lewat buku pribadinya aja terus langsung plong. Tapi memang kebanyakan akan memilih berbagi cerita dengan orang-orang terdekat. Bisa satu, dua, atau lebih. Makin banyak supporting system nya, maka akan makin banyak pula feedback yang didapat, kan? Dari feedback ini kita akan bisa berpikir ulang tentang kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Alhasil, hati senang, masalah hilang. Tapi, tidak dengan rasa tenang. Kok bisa?
Setiap supporting system yang kita temui, akan melakukan ini; mendengar cerita, mencerna alur, memberi masukan dan nasehat, lalu akan membiarkan kita; memikirkan ulang sendiri jalan hidup selanjutnya. Mereka tidak akan terus menerus memantau perjalanan kita. Pada saat itu, mungkin kita akan merasa tenang karna ada yang mendengarkan keluh kesah lalu memberi masukan. Rasa tenang yang sesaat, hanya saat kita masih bersama mereka. Saat kita sampai di rumah dan kembali sendirian, rasa tenang itu akan hilang. Disinilah harusnya kita menyadari bahwa sebaik-baiknya tempat kembali adalah kepada Allah Swt, supporting system pertama yang harusnya kita datangi. Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, Maha Melihat juga Maha Memahami.
Atas segala masalah yang pernah atau sedang kita alami, yuk kita sama-sama kembali. Jangan takut tidak didengar. Sepanjang apapun ceritanya, Allah akan mendengarkan, tanpa bosan tanpa jenuh. Sesempit apapun jalannya, Allah akn lapangkan, tanpa syarat tanpa ragu.
Sebagai penutup, saat semua yang kita senangi tidak terjadi sesuai rencana, mengapa tidak kita coba saja untuk menyenangi apapun yang terjadi? Semua berproses, semua berubah. Senangi saja dulu yang sekarang terjadi, soal nanti pelan-pelan bisa disusun kembali. Intinya, jangan lupa terus perbaiki diri.
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Cerita ini terbentuk dari : 50% kisah nyata, 50% kumpulan nasehat dari supporting system yang kupunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar